Pages

Selasa, 17 Oktober 2023

 

Koneksi Antar Materi Modul 1.4 Budaya Positif

Oleh Meizir Akhmadi

 

Tujuan membangun budaya positif di sekolah adalah menumbuhkan karakter anak. Kita semua percaya bahwa tujuan penting sekolah adalah pembentukan karakter. Itulah mengapa banyak program sekolah yang bertujuan untuk menumbuhkan karakter murid.

Di sekolah, guru memegang peranan penting dalam pelaksanaan penumbuhan budaya positif.  Penerapan budaya positif yang kami jalankan di lingkungan sekolah sudah berjalan dengan cukup baik namun masih perlu ditingkatkan lagi, dalam hal ini penerapan budaya positif harus dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan.

Penerapan budaya positif merupakan implementasi serta perwujudan pemebelajaran sebagaimana yang dikemukakan oleh Ki Hadjar Dewantara bahwa. Pendidikan adalah Pembudayaan Buah budimanusia yang beradab dan buah perjuangan manusia terhadap dua kekuatan yang selalu mengelilingi hidup manusia yaitu kodrat alam dan Zaman atau Masyarakat. Oleh karenanya dalam hal ini dibutuhkan seorang guru yang mampu menerapkan nilai-nilai dan peran seorang guru. Guru  yang baik diharapkan tergerak, bergerak, dan menggerakkan dalam mencapai tujuan Pendidikan yang berpusat pada siswa. Guru Bersama siswa, dan orang tua merancang sebuah kalimat Prakarsa perubahan yang tertian dalam visi sebagai wujud tujuan Pendidikan kedepan

Budaya positif dapat diciptakan dengan menerapkan konsep-konsep seperti disiplin positif, motivasi perilaku manusia (hukuman dan penghargaan), posisi kontrol restitusi, keyakinan kelas atau sekolah, dan segitiga restitusi.

Dalam melakukan restitusi, guru dapat melakukan lima posisi kontrol yaitu: pemberi hukuman, pembuat rasa bersalah, teman, pemantau dan manajer. Diantara kelima posisi tersebut, guru diharapkan mengambil posisi manajer. Posisi manajer adalah posisi dimana guru berbuat sesuatu bersama dengan murid, mempersilakan murid mempertanggungjawabkan perilakunya, mendukung murid agar dapat menemukan solusi atas permasalahannya sendiri. Manajer tidak mengatur perilaku seseorang, namun membimbing siswa mengatur dirinya sendiri. Posisi manajer sesuai dengan visi guru penggerak yang sejalan dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara yaitu untuk menuntun segala kekuatan kodrat anak untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya demi terciptanya student wellbeing. Peran manajer juga memunculkan nilai-nilai guru seperti kemandirian, inovasi, kolaborasi, kreativitas, dan berpihak pada siswa. Guru dengan kualitas manajerial berarti dapat menerapkan nilai-nilai dan peran seorang guru,  baik disekolah maupun di masyarakat.

Segitiga restitusi mengajak kita untuk melakukan penanganan kasus/pelanggaran dengan 3 langkah yaitu :

1.     Menstabilkan identitas

Mengubah paradigma bahwa murid itu gagal, dan menggantikannya dengan paradigma bahwa murid akan menjadi orang yang sukses

2.     Validasi Tindakan

Melakukan validasi tentang apa yang sudah dilakukan dan ke depannya memvalidasi alasan apa dia melakukan hal tersebut atau  apa yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan kebaikanyang diinginkan.

3.     Menanyakan keyakinan kelas

Selanjutnya menanyakan keyakinan kelas yang sudah disepakati. Apakah keyakinan kelas yg sudah dibuat sebelumnya.

Ketiga langkah segitiga restitusi ini diharapkan menjadi budaya positif untuk kita lakukan.

Dari materi ini  hal menarik bagi saya, yaitu bagaimana penghargaan yang selama ini kita lakukan justru menjadi hukuman bagi siswa. Selama ini  kita memberikan penghargaan kepada siswa sebagai bentuk upaya memberikan motivasi kepada siswa agar lebih disiplin semangat untuk melakukan sesuatu, namun justru sebaliknya penghargaan ini justru bisa jadi hukuman bagi siswa, karena siswa akan bergerak karena motivasi ingin mendapatkan penghargaan itu bukan karena motivasi dalam dirinya.

Materi penerapan budaya positif memberikan banyak pencerahan bagi saya selaku guru. selama ini ketika menghadapi siswa yang melakukan pelanggaran, saya lebih banyak memposisikan diri sebagai  penghukum. Setiap menangani permasalahan siswa, saya hanya melakukan validasi tindakan dengan menanyakan alasan murid melakukan pelanggaran tersebut dan setelahnya keputusan akhir ada pada guru apakah dengan alasan yang disampaikan oleh murid murid layak diberikan hukuman atau tidak. Padahal posisi ini diharapkan sebagai Langkah terakhir Ketika tahapan-tahapan restitusi sudah tidak memberikan dampak positif bagi murid.

Harapan kedepan dengan mempelajari materi ini  saya sebagai guru mampu mengambil posisi manajer dalam menghadapi permasalahan siswa. Dengan harapan siswa mampu mengenali kesalahan yang diperbuat serta memiliki kesadaran dalam dirinya (motivasi intrinsik) bahwa apa yang dia lakukan salah serta tidak akan mengulanginya lagi. Dengan memposisikan diri sebagai pemantau atau manajer juga akan membawa dampak perasaan bahagia bagi semua orang yang terlibat karena kita tidak saling menyalahkan, namun bisa mengambil hikmah dari masalah yang dihadapinya.

Selain posis Kontrol dan Segitiga Restutusi Hal lain yang perlu dipelajari yaitu bagaimana menjalin hubungan baik serta kolaborasi khususnya dengan orang tua dan masyarakat pada umumnya dalam menumbuh kembangkan  budaya positif, karena penumbuhan budaya positif disekolah akan lebih efektif apabila diimbangi dengan penerapan di lingkugan rumah siswa, jadi budaya positif dilakukan murid dimanapun ia berada.


Kamis, 23 Juli 2020

Telaga Bidadari




Dahulu kala, ada seorang pemuda yang tampan dan gagah. Ia bernama Awang Sukma. Awang Sukma mengembara sampai ke tengah hutan belantara. Ia tertegun melihat aneka macam kehidupan di dalam hutan. Ia membangun sebuah rumah pohon di sebuah dahan pohon yang sangat besar. Kehidupan di hutan rukun dan damai. Setelah lama tinggal di hutan, Awang Sukma diangkat menjadi penguasa daerah itu dan bergelar Datu. Sebulan sekali, Awang Sukma berkeliling daerah kekuasaannya dan sampailah ia di sebuah telaga yang jernih dan bening. Telaga tersebut terletak di bawah pohon yg rindang dengan buah-buahan yang banyak. Berbagai jenis burung dan serangga hidup dengan riangnya. "Hmm, alangkah indahnya telaga ini. Ternyata hutan ini menyimpan keindahan yang luar biasa," gumam Datu Awang Sukma.

Keesokan harinya, ketika Datu Awang Sukma sedang meniup serulingnya, ia mendengar suara riuh rendah di telaga. Di sela-sela tumpukan batu yang bercelah, Datu Awang Sukma mengintip ke arah telaga. Betapa terkejutnya Awang Sukma ketika melihat ada 7 orang gadis cantik sedang bermain air. "Mungkinkah mereka itu para bidadari?" pikir Awang Sukma. Tujuh gadis cantik itu tidak sadar jika mereka sedang diperhatikan dan tidak menghiraukan selendang mereka yang digunakan untuk terbang, bertebaran di sekitar telaga. Salah satu selendang tersebut terletak di dekat Awang Sukma. "Wah, ini kesempatan yang baik untuk mendapatkan selendang di pohon itu," gumam Datu Awang Sukma.

Mendengar suara dedaunan, para putri terkejut dan segera mengambil selendang masing-masing. Ketika ketujuh putri tersebut ingin terbang, ternyata ada salah seorang putri yang tidak menemukan pakaiannya. Ia telah ditinggal oleh keenam kakaknya. Saat itu, Datu Awang Sukma segera keluar dari persembunyiannya. "Jangan takut tuan putri, hamba akan menolong asalkan tuan putri sudi tinggal bersama hamba," bujuk Datu Awang Sukma. Putri Bungsu masih ragu menerima uluran tangan Datu Awang Sukma. Namun karena tidak ada orang lain maka tidak ada jalan lain untuk Putri Bungsu kecuali menerima pertolongan Awang Sukma.
 Ratu Awang Sukma sangat mengagumi kecantikan Putri Bungsu. Demikian juga dengan Putri Bungsu. Ia merasa bahagia berada di dekat seorang yang tampan dan gagah perkasa. Akhirnya mereka memutuskan untuk menjadi suami istri. Setahun kemudian lahirlah seorang bayi perempuan yang cantik dan diberi nama Kumalasari. Kehidupan keluarga Datu Awang Sukma sangat bahagia.

 amun, pada suatu hari seekor ayam hitam naik ke atas lumbung dan mengais padi di atas permukaan lumbung. Putri Bungsu berusaha mengusir ayam tersebut. Tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah bumbung bambu yang tergeletak di bekas kaisan ayam. "Apa kira-kira isinya ya?" pikir Putri Bungsu. Ketika bumbung dibuka, Putri Bungsu terkejut dan berteriak gembira. "Ini selendangku!, seru Putri Bungsu. Selendang itu pun didekapnya erat-erat. Perasaan kesal dan jengkel tertuju pada suaminya. Tetapi ia pun sangat sayang pada suaminya.

 Akhirnya Putri Bungsu membulatkan tekadnya untuk kembali ke kahyangan. "Kini saatnya aku harus kembali!," katanya dalam hati. Putri Bungsu segera mengenakan selendangnya sambil menggendong bayinya. Datu Awang Sukma terpana melihat kejadian itu. Ia langsung mendekat dan minta maaf atas tindakan yang tidak terpuji yaitu menyembunyikan selendang Putri Bungsu. Datu Awang Sukma menyadari bahwa perpisahan tidak bisa dielakkan. "Kanda, dinda mohon peliharalah Kumalasari dengan baik," kata Putri Bungsu kepada Datu Awang Sukma." Pandangan Datu Awang Sukma menerawang kosong ke angkasa. "Jika anak kita merindukan dinda, ambillah tujuh biji kemiri, dan masukkan ke dalam bakul yang digoncang-goncangkan dan iringilah dengan lantunan seruling. Pasti dinda akan segera datang menemuinya," ujar Putri Bungsu.

Putri Bungsu segera mengenakan selendangnya dan seketika terbang ke kahyangan. Datu Awang Sukma menap sedih dan bersumpah untuk melarang anak keturunannya memelihara ayam hitam yang dia anggap membawa malapetaka.

Pesan moral : Jika kita menginginkan sesuatu sebaiknya dengan cara yang baik dan halal. Kita tidak boleh mencuri atau mengambil barang/harta milik orang lain karena suatu saat kita akan mendapatkan hukuman.

Gadis Penjual Korek Api




Di malam natal, orang-orang berjalan dengan wajah yang gembira memenuhi jalan di kota. Di jalan itu ada seorang gadis kecil mengenakan pakaian compang-camping sedang menjual korek api. "Mau beli korek api?" "Ibu, belilah korek api ini." "Aku tidak butuh korek api, sebab di rumah ada banyak." Tidak ada seorang pun yang membeli korek api dari gadis itu.

Tetapi, kalau ia pulang tanpa membawa uang hasil penjualan korek api, akan dipukuli oleh ayahnya. Ketika akan menyeberangi 'alan. Grek! Grek! Tiba-tiba sebuah kereta kuda berlari dengan kencangnya. "Hyaaa! Awaaaaas!" Gadis itu melompat karena terkejut. Pada saat itu sepatu yang dipakainya terlepas dan terlempar entah ke mana. Sedangkan sepatu sebelahnya jatuh di seberang jalan. Ketika gadis itu bermaksud pergi untuk memungutnya, seorang anak lakilaki memungut sepatu itu lalu melarikan diri. "Wah, aku menemukan barang yang bagus."

Akhirnya gadis itu bertelanjang kaki. Di sekitarnya, korek api jatuh berserakan. Sudah tidak bisa dijual lagi. Kalau pulang ke rumah begini saja, ia tidak dapat membayangkan bagaimana hukuman yang akan diterima dari ayahnya. Apa boleh buat, gadis itu membawa korek api yang tersisa, lalu berjalan dengan sangat lelahnya. Terlihatlah sinar yang terang dari jendela sebuah rumah. Ketika gadis itu pergi mendekatinya, terdengar suara tawa gembira dari dalam rumah.

Di rumah, yang dihangatkan oleh api perapian, dan penghuninya terlihat sedang menikmati hidangan natal yang lezat. Gadis itu meneteskan air mata. "Ketika ibu masih hidup, di rumahku juga merayakan natal seperti ini." Dari jendela terlihat pohon natal berkelipkelip dan anak-anak yang gembira menerima banyak hadiah. Akhirnya cahaya di sekitar jendela hilang, dan di sekelilingnya menjadi sunyi.

Salju yang dingin terus turun. Sambil menggigil kedinginan, gadis itu duduk tertimpa curahan salju. Perut terasa lapar dan sudah tidak bisa bergerak. Gadis yang kedinginan itu, menghembus-hembuskan nafasnya ke tangan. Tetapi, sedikit pun tak menghangatkannya. "Kalau aku menyalakan korek api ini, mungkin akan sedikit terasa hangat." Kemudian gadis itu menyalakan sebatang korek api dengan menggoreskannya di dinding.

Crrrs Lalu dari dalam nyala api muncul sebuah penghangat. "Oh, hangatnya." Gadis itu mengangkat tangannya ke arah tungku pemanas. Pada saat api itu padaamtungku pemanaspun menghilang. Gadis itu menyalakan batang korek api yang kedua. Kali ini dari dalam nyala api muncul aneka macam hidangan.

Di depan matanya, berdiri sebuah meja yang penuh dengan makanan hangat. "Wow! Kelihatannya enak." Kemudian seekor angsa panggang melayang menghampirinya. Tetapi, ketika ia berusaha menjangkau, apinya padam dan hidangan itu menghilang. Gadis itu segera mengambil korek apinya, lalu menyalakannya lagi. Crrrs!

Tiba-tiba gadis itu sudah berada di bawah sebuah pohon natal yang besar. "Wow! Lebih indah daripada pohon natal yang terlihat dari jendela tadi." Pada pohon natal itu terdapat banyak lilin yang bersinar. "Wah! Indah sekali!" Gadis itu tanpa sadar menjulurkan tangannya lalu korek api bergoyang tertiup angin. Tetapi, cahaya lilin itu naik ke langit dan semakin redup. Lalu berubah menjadi bintang yang sangat banyak.

Salah satu bintang itu dengan cepat menjadi bintang beralih. "Wah, malam ini ada seseorang yang mati dan pergi ke tempat Tuhan,ya... Waktu Nenek masih hidup, aku diberitahu olehnya." Sambil menatap ke arah langit, gadis itu teringat kepada Neneknya yang baik hati. Kemudian gadis itu menyalakan sebatang lilin la i. Lalu di dalam cahaya api muncul wujud Nenek yang dirindukannya. Sambil tersenyum, Nenek menjulurkan tangannya ke arah gadis itu.

"Nenek!" Serasa mimpi gadis itu melo ' mpat ke dalam pelukan Nenek. "Oh, Nenek, sudah lama aku ingin bertemu' " Gadis itu menceritakan peristiwa yang dialaminya, di dalam pelukan Nenek yang disayanginya. "Kenapa Nenek pergi meninggalkanku seorang diri? Jangan pergi lagi. Bawalah aku pergi ke tempat Nenek." Pada saat itu korek api yang dibakar anak itu padam. "Ah, kalau apinya mati, Nenek pun akan pergi juga. Seperti tungku pemanas dan makanan tadi..."

Gadis itu segera mengumpulkan korek api yang tersisa, lalu menggosokkan semuanya. Gulungan korek api itu terbakar, dan menyinari sekitarnya seperti siang harl. Nenek memeluk gadis itu dengan erat. Dengan diselimuti cahaya, nenek dan gadis itu pergi naik ke langit dengan perlahanlahan. "Nenek, kita mau pergi ke mana?" "Ke tempat Tuhan berada."

Keduanya semakin lama semakin tinggi ke arah langit. Nenek berkata dengan lembut kepada gadis itu, "Kalau sampai di surga, Ibumu yang menunggu dan menyiapkan makanan yang enak untuk kita." Gadis itu tertawa senang. Pagi harinya. Orang-orang yang lewat di jalan menemukan gadis penjual korek api tertelungkup di dalam salju. "Gawat! Gadis kecil ini jatuh pingsan di tempat seperti ini." "Cepat panggil dokter!"

Orang-orang yang berkumpul di sekitarnya semuanya menyesalkan kematian gadis itu. Ibu yang menolak membeli korek api pada malam kemarin menangis dengan keras dan berkata, "Kasihan kamu, Nak. Kalau tidak ada tempat untuk pulang, sebaiknya kumasukkan ke dalam rumah." Orang-orang kota mengadakan upacara pemakaman gadis itu di gereja, dan berdoa kepada Tuhan agar mereka berbuat ramah meskipun pada orang miskin.




Rabu, 10 November 2010

Manusia Satu Kata


Hari yang cerah. Raja Mahendra pergi ke hutan untuk menguji kemampuannya berburu. Ia melarang para pengawal mengikutinya masuk ke hutan. Di tengah hutan, tampak seekor kijang asyik makan rumput. Raja Mahendra langsung membidik anak panahnya.

Ah, kijang itu berhasil melarikan diri. Raja Mahendra mengejarnya. Namun ia terperosok masuk ke lubang yang cukup dalam. Ia berteriak sekeras-kerasnya memanggil para pengawal. Namun suaranya lenyap ditelan lebatnya hutan. Selagi Raja Mahendra merenungi nasibnya, ia terkejut melihat seseorang berdiri di tepi lubang.
“Hei! Siapa kau?” tanya Raja. Orang itu tak menjawab. “Aku Raja Mahendra! Tolong naikkan aku!” pintanya dengan nada keras. “Tidak!” jawab orang itu. Raja menjadi geram. Ia ingin memanah orang itu. Namun sebelum anak panah melesat, orang itu lenyap. Tak lama kemudian, jatuhlah seutas tali. Raja mengira itu pengawalnya. Namun, ternyata orang tadi yang melempar tali.

“Jadi kau mau menolongku?”
“Tidak!” jawabnya lagi. Raja menjadi bingung. Katanya tidak, mengapa memberi tali? Apa boleh buat, yang penting orang itu mau menolongnya. Raja Mahendra berhasil naik. Ia mengucapkan rasa terima kasih.

“Maukah kau kubawa ke kerajaan?” tawar Raja.
“Tidak!” jawab si penolong.
“Kalau tidak mau, terimalah beberapa keping emas.”
“Tidak!” jawabnya lagi, tetapi tangannya siap menerima.
Akhirnya Raja Mahendra sadar, bahwa orang itu hanya bisa bicara satu kata. Yaitu tidak. Walau berkata tidak, orang itu dibawa juga ke kerajaan. Sampai di kerajaan Raja Mahendra memanggil Patih.

“Paman Patih, tolong berikan pekerjaan pada manusia satu kata ini. Ia hanya bisa berkata, tidak.”
“Mengapa paduka membawa orang yang amat bodoh ini?”
“Walau bodoh, ia telah menolongku ketika terperosok lubang.” Patih berpikir keras. Pekerjaan apa yang sesuai dengan orang ini.

Setelah merenung beberapa saat, Patih tersenyum dan berkata, “Paduka kan bermaksud mengadakan sayembara untuk mencari calon suami bagi sang putri. Tetapi sampai kini Paduka belum menemukan jenis sayembaranya.”
“Benar Paman Patih, aku ingin mempunyai menantu yang sakti dan pandai. Tetapi apa hubungannya hal ini dengan sayembara?”

“Peserta yang telah lolos ujian kesaktian, harus mengikuti babak kedua. Yaitu harus bisa memasuki keputren dengan cara membujuk penjaganya.”
“Lalu, siapa yang akan dijadikan penjaga keputren?”
“Manusia satu kata itu, Paduka.”
“Lho, ia amat bodoh. Nanti acara kita berantakan!”
“Percayalah pada hamba, Paduka.”
Pada hari yang ditentukan, peserta sayembara berkumpul di alun-alun. Mereka adalah raja muda dan pangeran dari kerajaan tetangga. Di babak pertama, kesaktian para peserta diuji. Dan, hanya tiga peserta yang berhasil.

Ketiganya lalu dibawa ke depan pintu gerbang keputren. Patih memberi penjelasan pada mereka. Nampaknya mudah. Mereka hanya disuruh membujuk penjaga keputren sehingga dapat masuk keputren.

Peserta hanya boleh mengucapkan tiga pertanyaan.
“Penjaga yang baik. Bolehkah aku masuk keputren?” tanya peserta pertama.
“Tidak!” jawab si manusia satu kata.
“Maukah kuberi emas sebanyak kau mau, asal aku diperbolehkan masuk?”
“Tidak!”

Pertanyaan tinggal satu.
“Kau akan kujadikan Senopati di kerajaanku, asal aku boleh masuk.”
“Tidak!” ujar si manusia satu kata.
Peserta pertama gugur. Ia mundur dengan lemah lunglai. Peserta kedua maju. Ia telah menyusun pertanyaan yang dianggapnya akan berhasil,

“Penjaga, kalau aku boleh masuk keputren, kau akan kunikahkan dengan adikku yang cantik. Setuju?” pertayaan pertama peserta kedua.
“Tidak!”
“Separoh kerajaan kuberikan padamu, setuju?”
“Tidak!”
“Katakan apa yang kau inginkan, asal aku boleh masuk.”
“Tidak!”
Peserta kedua pun mundur dengan kecewa. Mendengar percakapan dua peserta yang tak mampu masuk keputren, Raja Mahendra tersenyum puas. Pandai benar patihku, katanya dalam hati.
Peserta terakhir maju.

Semua penonton termasuk Raja Mahendra memperhatikan dengan seksama. Raja muda itu tampak percaya diri. Langkahnya tegap penuh keyakinan.

“Wahai penjaga keputren, jawablah pertanyaanku baik-baik. Tidak dilarangkah aku masuk keputren?” tanyanya dengan suara mantap. Raja Mahendra, Patih, dan penonton terkejut dengan pertanyaan itu.

Dengan mantap pula penjaga menjawab.
“Tidak!” Seketika itu sorak-sorai penonton bergemuruh, mengiringi kebehasilan peserta terakhir. Si raja muda yang gagah lagi tampan. Raja Mahendra sangat senang dengan keberhasilan itu. Calon menantunya sakti dan pandai.

Sayembara usai. Manusia satu kata berjasa lagi pada Raja Mahendra. Ia dapat menyeleksi calon menantu yang pandai. Walau bodoh, Raja Mahendra tetap mempekerjakannya sebagai penjaga keputren.

Dikirim Oleh: Rafiif Wasis Ibaadurrahmaan
Sumber Cerita: Oleh Mujinem (Bobo No. 40/XXVII)

Senin, 02 Maret 2009

Cerita Tentang Pegambil Api



Antara banyak cerita dongeng di China, terdapat ramai pahlawan yang cerdik dan gagah berani untuk mendatangkan kebahagiaan kepada rakyat, Suiren iaitu pengambil api merupakan salah seorang daripada mereka.

Pada zaman silam, orang tidak tahu ada api dan juga tidak tahu bagaimana menggunakannya. Pada malam hari, gelap gulita di mana-mana, hanya haiwan liar sedang mengaum, ramai orang sangat takut dan hanya berkumpul bersama-sama pada cuaca yang sangat sejuk. Disebabkan tidak ada api, makanan hanya dapat dimakan mentah-mentah doleh manusia, oleh itu, manusia sering-sering jatoh sakit dan jangka hayat pendek.

Ada dewa di langit yang bernama Fu Xi, dia bersedih setelah mendapati kehidupan di kalangan rakyat sangat sukar. Untuk menyebabkan orang mengetahui kegunaan api, dewa Fu Yi telah membaca mantera supaya hujan lebat turun di hutan. Tiba-Tiba, sebatang pokok disambah petir dan pokok itu dibakar dan sangat cepat menjadi kebakaran yang membara. Ramai orang sangat takut dan melarikan diri dari tempat itu. Sebentar, hujan lebat telah berhenti, hari mulai gelap gulita, dan lebih sejuk selepas hujan. Orang yang melarikan diri juga berkumpul bersama-sama, mereka sangat takut ketika menyaksikan pokok yang sudah dibakar. Pada ketika itu, ada seorang pemuda mendapati, bunyi haiwan liar mengaum di kawasan sekitar tidak didengar. Dia berfikir, apakah haiwan liar takut akan cahaya api ? Oleh itu, dia dengan gagah berani pergi ke tempat yang berapi, dia terasa sangat panas. Dia dengan gembira panggil sekelian pergi ke sana sambil berkata: “Api ini tidak menakutkan kami, dan juga membawa keterangan dan kepanasan kepada kami”. Pada ketika itu, ramai orang juga mendapati, di tempat yang tidak jauh, ada haiwan liar yang mati dalam kebakaran besar dan mengeluarkan aroma yang menyedapkan. Mereka berkumpul di tepi api dan memakan daging haiwan liar yang sangat enak. Sejak itu, mereka tahu api adalah sangat berharga, kemudian, mereka memungut ranting pokok, menyalakan longgokan ranting pokok dan mengekalkannya. Pada setiap hari, ada orang mengawal di tepi api, supaya api tidak dapat dipadamkan. Namun, pada suatu hari, orang yang berkawal di tempat itu telah tidur, api telah padam setelah ranting pokok dibakar hangus. Ramai orang sangat sedih kerana mereka telah kembali ke kegelapan dan kesejokan.

Setelah mengetahui hal tersebut, dewa Fu Xi datang ke mimpi seorang pemuda yang terlebih dahulu menemukan kegunaan api dan memberitahu dia bahawa di barat yang jauh, terdapat negara Suiming yang mempunyai bahan yang menyalakan api, anda boleh mengambil api dari negara itu. Pemuda itu sedar dari mimpi dan teringat kenyataan yang dicakap oleh dewa, oleh itu dia berikrar pergi ke negara Suiming untuk mencari bahan menyalakan api.

Pemuda itu telah tiba di negara Suiming pada akhirnya setelah merentasi gunung tinggi, mengharungi sungai yang besar, menembusi hutan dan mengatasi banyak sukaran. Namun, tempat itu tidak ada sinaran matahari dan tidak berbeza siang hari dan malam, berada dalam gelap gulita dan sama sekali tidak ada api. Pemuda itu merasa sangat kecewa dan hanya duduk di bawah sebatang pokok yang besar untuk merehat. Tiba-tiba, pemuda itu melihat ada cahaya yang menerangi kawasan sekitarnya. Pemuda itu segera berdiri dan mencari sumber cahaya. Pada ketika itu, dia melihat beberapa ekor burung sedang mematok ulat di pokok. Asal saja mereka mematok pokok, percikan api akan dikeluarkan dari pokok itu. Pemuda itu dengan segera menggunakan ranting pokok yang kecil untuk bergesek dengan ranting pokok yang besar, ranting pokok itu memancarkan cahaya, tetapi tidak dibakar. Pemuda itu tidak putus asa, dan dengan sabar menggunakan pelbagai ranting pokok untuk mengadakan pergesekan. Pada akhirnya, ranting pokok itu mengeluarkan asap dan berapi. Pemuda itu sangat gembira atas kejayaan hal itu.

Pemuda itu telah kembali ke kampung halaman mereka, dan membawa cara pengambilan api dengan pergesekan ranting pokok yang tidak padam secara berkekalan. Sejak itu, manusia tidak hidup dalam kesejukan dan ketakutan. Ramai orang memilih pemuda itu sebagai ketua kaum mereka kerana keberanian dan kecerdikannya dan menyebutnya “ Suiren” iaitu bermakna pengambil api.

Rabu, 11 Februari 2009

CANDI BOROBUDUR



1. Sejarah Singkat Candi Borobudur
           Keberadaan candi Borobudur ditemukan oleh Gubernur Jenderal Sir Thomas Raffles pada tahun 1814. Saat itu Belanda dan Inggris berperang dan sempat wilayah nusantara dipimpin oleh Inggris. Saat Raffles berkunjung ke Semarang, ia mendapat laporan ada bukit yang penuh dengan relief. Bersama dengan H.C. Cornelius, seorang Belanda, disertai 200 orang dimulailah pembersihan situs berbentuk bukit tersebut.
 
          Tahun 1835 dan seterusnya mulailah tampak wujud sebenarnya bagian atas candi, diteruskan bertahun-tahun hingga dianggap selesai pada tahun 1850-an. Dan pada tahun 1873 seorang artis Belanda, F.C. Wilsen, menerbitkan monograf pertama relief-relief candi Borobudur, hingga kemudian Isidore van Kinsbergen memotret candi tersebut. Namun saat itu status dan struktur candi Borobudur masih diyakini tak stabil.
           Awal abad ke-20 dilakukan restorasi besar-besaran oleh Theodoor van Erp, yang bertugas di Magelang, sekaligus tergabung ke dalam Borobudur Commission. Erp melakukan metoda yang disebut anastylosis, yaitu suatu metoda untuk merekonstruksi bangunan tua bersejarah dengan perhitungan, simulasi, disassembly dan disusun kembali dengan bantuan batu, plester, semen untuk menahan struktur dan bagian yang telah hilang. Namun upaya ini kurang sukses karena kurangnya dana, sehingga Erp hanya fokus pada restorasi struktur dan drainase. 
          Tahun 1973 hingga 1984 UNESCO ikut membantu dalam upaya restorasi dan pendanaan candi ini. Dibongkar lebih lengkap, struktur tanah dan bukit diperkuat, serta kembali batu-batu disusun hingga tampak kemegahannya hingga sekarang. UNESCO pun memasukkannya ke dalam daftar World Heritage Site atau Warisan Dunia UNESCO.
          21 Januari 1985 beberapa stupa hancur karena serangan ledakan bom. Beberapa waktu lalu pembangunan di sekeliling candi juga menjadi isu kontroversial. Terakhir, kejadian gempa di Yogyakarta tidak membuat kerusakan struktur candi ini.
         Dongeng setempat mengatakan Gunadharma memimpin pembuatan candi ini di jaman Syailendra di akhir abad ke-8. Menurut seorang akademisi Belanda, nama Gunadharma adalah murni bahasa Sansekerta yang berarti dongeng rakyat tersebut bersumber dari fakta sejarah, sebab dongeng rakyat yang semata-mata dongeng hanya menampilkan figur nama lokal/setempat.
            Candi Borobudur dibangun sebagai sebuah candi besar, bukan sebuah komplek, yang jika dilihat tegak lurus dari atas berbentuk sebuah mandala besar di atas tanah. Bentuk dasar candi berukuran 123×123 meter, bertingkat 6 berbentuk bujur sangkar dan 3 tingkat ke atasnya berbentuk lingkaran dan ditutup dengan sebuah stupa besar. 
           Bahan dasar batu diambil dari sungai, dipahat, dibentuk kubus dengan sistem kunci coakan dan sengkedan, tidak ada penggunaan mortar atau bahan pelekat lainnya. Sebagai struktur sebuah bukit –katanya puncak bukit– menjadi tempat penyusunan batu-batu tersebut. Total batu struktur dan termasuk reliefnya –seluas 2.500m2– menghabiskan sekitar 55.000m3. 
             Gunadharma pun memikirkan sistem drainase, terutama saat musim hujan di mana curah hujan daerah tropis sangat tinggi, tetesan air hujan bisa mengalir deras dari puncak hingga ke bawah. Di tiap tingkat, di setiap sudutnya dibuat 100 lubang air dalam bentuk patung-patung yang unik.
             Menurut para ilmuwan pembangunan candi ini memakan waktu 50 tahun. Wajar jika legenda mengatakan Gunadharma sebagai arsiteknya meminta tetap berada di candi tersebut, moksa untuk menjaga kelestarian sebuah karya monumental, baik bagi Gunadharma sendiri, bagi Samaratungga dan putrinya, Pramudawardhani, dan bagi penerus wangsa Syailendra saat itu.
              Yang masih menjadi misteri adalah kepastian mengapa wilayah candi Borobudur adalah wilayah yang ditinggalkan. Saat Raffles menemukan candi ini, wilayah tersebut adalah bukan wilayah hunian, sebuah hal yang janggal ketika sebuah tempat peribadatan besar umat Budha tapi tidak ada penduduknya. Bahkan Majapahit atau pun Sunda Galuh tidak mencatat eksistensi candi ini.
            Para ilmuwan berkesimpulan Borobudur hilang karena tertimbun ledakan Gunung Merapi di awal abad ke-11, diiringi dengan pengungsian besar-besaran penduduk, menjadi wilayah desertir. Namun pendapat ini pun masih belum bisa dipastikan oleh para ilmuwan dan akademisi.
              Legenda Gunadharma pernah diangkat ke dalam sinetron beberapa tahun lalu. Namun saya hanya sempat melihat satu-dua episodenya, mungkin ada faktor rasa tak suka dengan kualitas industri sinetron buatan dalam negeri, tapi sedikit menyesal juga garis besar rangkaian cerita Gunadharma –walau hanya dongeng– tidak saya dapatkan.


2. Bangunan Candi
       Candi Borobudur dibuat/dibangun menggunakan batu andesit sebanyak 55.000 m3. Bangunan candi Borobudur berbentuk limas yang berundak-undak dengan tangga naik pada keempat sisinya (timur,selatan,barat,dan utara). pada candi Borobudur tidak ada ruangan dimana orang bisa masuk melainkan hanya bisa naik sampai terasnya.
lebar bangunan candi Borobudur : 123 m
Panjang bangunan candi Borobudur : 123m
Pada sudut yang membelok : 113m
Tinggi bangunan candi : 34,5m
Pada kaki candi yang asli ditutup dengan batu sebanyak 12.750m3, sebagai selasar dan undakannya.
Candi Borobudur merupakan tiruan dari kehidupan pada alam semesta, yang terbagi dalam tiga bagian besar yaitu kamadhatu, rupadhatu, dan arupadhatu.


3. Patung Budha
Patung budha di candi Borobudur berjumlah 504 buah, dengan uraian sebagai berikut:
Patung budha yang berada pada relung-relung : 432 buah
sedangkan pada teras I,II,III : 72 buah 
Jumlah 504 buah  
          Sekilas patung-patung budha itu tampak serupa semuanya, tetapi sesungguhnya ada juga perbedaan-perbedaannya. Perbedaan yang sangat jelas dan juga yang membedakan satu dan yang lainya ialah sikap tangannya, yang disebut mudra dan merupakan cirri khas untuk setiap patung. Sikap tangan budha di candi Borobudur ada enam macam, hanya saja oleh karena macam mudra yang dimiliki oleh patung-patung yang menghadap semua arah (timur, selatan, barat, dan utara) pada bagian rupadhatu maupun ada bagian arupadhatu pada umumnya menggambarkan maksud yang sama, maka jumlah mudra yang pokok ada lima
Kelima mudra itu ialah:
1. Bhumispara-mudra
2. Wara-mudra
3. Dhyana-mudra
4. Aphaya-mudra
5. Dharma cakra-mudra  
4. Patung singa
          Pada candi Borobudur selain patung budha juga terdapat patung singa, jumlah patung singa seharusnya tidak kurang dari 32 patung, akan tetapi bila dihitung sekarang mungkin jumlahnya kurang dari yang seharusnya ada, karena berbagai sebab.
         Satu-satunya patung singa besar, berada pada halaman sisi barat yang juga menghadap ke barat, seolah-oleh sedang menjaga bangunan candi yang megah dan anggun.

5. Stupa
Stupa dalam candi boro budur terdiri dari tiga macam:
1. Stupa induk
           Stupa induk berukuran lebih besar dari stupa-stupa lainnya dan terletak ditengah-tengah (paling atas) yang merupakan mahkota dari seluruh monument bangunan candi Borobudur. Garis tengah ± 9,90m.
2. Stupa berlubang/ terawang
         Stupa berlubang atau terawang ialah stupa yang terdapat pada teras I,II,dan III dimana di dalamnya terdapat patung budha. Di candi Borobudur seluruh stupa berlubang jumlahnya 72 buah.
3. Stupa kecil
         Stupa kecil hampir sama dengan stupa lainnya, hanya perbedaannya yang menonjol adalah dalam ukurannya yang memang lebih kecil dari stupa yang lainnya. Stupa ini seolah menjadi hiasan dari seluruh hiasan candi. Jumlah stupa kecil ada 1472 buah.

6. Relief 
LOKASI NAMA RELIEF JUMLAH
Kaki candi asli Karmawibhanga 160 pigura
Tingkat I ……..dinding
        langkan Lalitawistara 120 pigura
       Jataka/awadana 120 pigura
       Jataka/awadana 372 pigura
       Jataka/ awadana 128 pigura
Tingkat II…….dinding
      langkan Gandawyuha 128 pigura
      Jataka/ awadana 100 pigura
Tingkat III……dinding
      langkan Gandawyuha 88 pigura
      Gandawyuha 88 pigura
Tingkat IV……dinding
      langkan Gandawyuha 84 pigura
     Gandawyuha 72 pigura
Jumlah relief di candi borobudur 1460 pigura

GUA MAHARANI



A. Pemberian nama gua istana maharani

    Keunikan telah terjadi ketika memberi nama gua ini, banyak orang saling mengusulkan nama untuk gua baru ini baik dari pejabat maupun dari masyarakat. Oleh bupati daerah tingkat II lamongan H.R. Mohammad Faried, SH ditetapkan dengan nama MAHARANI. Kemudia gua ini sebagai taman wisata baru oleh H.R. Mohammad Faried ditambahkan dengan GUA ISTANA MAHARANI, atas usulan istri sunyoto nama maharani ditetapkan sampai saat ini.
        Pada saat itu H.R. Mohammad Faried S,H menanyakan kepada istrinya. Sebaiknya apa nama gua yang ditemukan segen tersebut yang dibawa pengawasan suaminya? Maka NY. Sunyoto mengusulkan sebuah nama GUA MAHARANI karena mempunyai alasan yang kuat yaitu:
Sehari sebelum tanggal 6 Agustus 1992 Ny. Sunyoto bahwa direlung batu didepan gua baru tempat kerja suaminya ini terlihat seorang wanita cantik memakai mahkota berwarna-warni. Mahkota cantik ini bercahaya kemilau berlapis emas, bertatahkan intan, berlian, bermotif hiasan bunga mawar dan dahlia. Ketika Ny. Sunyoto bangun dalam keheningan malam merasa ada bisikan bahwa dia baru saja melihat mahkota indah milik seorang ratu yang disebut maharani. Sang ratu bermahkota indah ini tampakdalam relung didepan pintu gua akhirnya menjadi kenyataan.
Kebetulan bahwa usulan Ny. Sunyoto mengiginkan nama gua baru tersebut disebut gua maharani sebab cucunya juga mempunyai nama yang sama yang sama yaitu Tiyas Maharani.
B. Isi Gua Alam Istana Maharani
        Menurut tata letak ornamen dinding yang ada memiliki bentuk beraneka ragam dengan diberi nama pelataran, paseban, garba, relung, umpak, selo (batu), karang. Kesemua nama tersebut mengandung falsafah kehidupan yang baik. Isi gua memiliki nama-nama dengan bahasa jawa kuno sesuai dengan wujud bentuk batuan.
        Pembagian ruang gua istana maharani ada 2 yaitu GARBA JAWI dan GARBA LEBET. Sedangkan garba jawi terdiri 2 relung (ruang cekung) yaitu RELUNG ANDIKA dan RELUNG BALEMUKO, kedua relung ini sebagai relung jobo (luar) dan disebut DWI JAMNO. Sebagai tamsil bahwa segala sesuatu dialam fana ini adanya berpasangan antaralain hidup-mati, pria-wanita, siang-malam,dll. Relung andika berarti ruang tinggi yang berpundak, ruang balemuko berarti ruang pertemuan pertama mempunyai lantai datar berbatu gragal merata. Garba lebet (ruang dalam gua) terdiri dari 2 bagian yaitu PELATARAN JOBO dan PELATARAN JERO, diantaranya 2 pelataran ini ada PASERBAN MAHARANI merupakan ruang luas yang dikelilingi jalan berpagar besi untuk para pengunjung.
          Paserban maharani ini dikelilingi oleh 7 relung disebut SAPTO WUJUDING JANMO (tujuh perwujudan manusia) dengan sebutan sebagai berikut:
1. EKO RELUNG BUWONO, artinya satu ruangan bumi
2. DWI RELUNG AGNI, artinya dua ruangan api
3. TRI RELUNG BAYU, artinya tiga ruangan angin
4. CATUR RELUNG TIRTO, artinya empat ruangan air
5. PONCO RELUNG JIWO, artinya lima ruangan jiwa
6. SATTO RELUNG ROGO, artinya enam ruangan raga
7. SAPTO RELUNG SUKMO, artinya tujuh ruangan sukma 
         Ketujuh sifat dan materi ini menunjukkan bahwa manusia itu hidup karena tujuh unsur yaitu memiliki unsur tanah (badan), unsur api (temperatur badan 37º C), unsur angin (nafas, kentut), unsur air (keringat, darah, air mata, ludah), unsur jiwa, raga, sukma (nyawa). Isi gua ada dilangit-langit gua, dilantai dan didinding gua memiliki nama dan model sebagaimana nama-nama tertulis tadi.
C. Nama-Nama Stalaktit dan Stalakmmit 
         Sebutan nama stalaktit dan stalakmit semula diajukan oleh bagian humas pemda kabupaten dati II lamongan dengan minta bantuan prof.dr. Suripan dari universitas negeri surabaya sebagai sastrawan ahli masalah kesenian kentrung.
Nama-nama batuan dimaksud adalah sebagaimana uraian berikut ini:
Garba jawi atau gerbang luar terdiri cekungan batu kapur yang ada disumur buatan bersumber dari kali bawah tanah yang airnya diambil untuk air terjun dalam gua, air wudlumushola dan kamar mandi semuanya ini berada dalam RELUNG ANDIKA(ruang atas). Relung yang kedua ialah RELUNG BALEMUKO pelataran menuju pintu yang bernama PINTU BABUSSALAM NUTFAHTUL KHASANAH atau gerbang paksi tatsoko dijaga oleh patung buatan diberi nama Nogowito Tirtomanggolo dan Nogowiro Dahonomanggolo.
Garba lebet terdiri 7 relung berada pada pelataran jobo dan pelataran jero yang di tengahnya ada arena paseban maharani.
pelataran jobo ; batuan stalaktit dan stalakmit yang ada ialah terdiri:
1. EKO RELONG BUWONO: Sekar Kantil Kembar, Sekar Melati Suci, Songgo Buwono.
2. SATTO RELUNG ROGO: Selo Sampeyan, Wojo Yakso, Wono Purwo Mahardiko, Wojo Ifrid, Selo Tasbeh Suci, Selo Mahkota Rama, Selo Putri Maharani.
3. SAPTO RELUNG SUKMO: Selo Waringin, Selo Wasisik, Dampar Singgasana, Janmo Suci, Selo Gajah, Mungkur, Selo Komo Sutro, Selo Pemongso.
4. PELATARAN JERO; batuan stalaktit dan stalakmit yang ada ialah terdiri:
5. DWI RELUNG AGNI: selo rogo sukmo,godo bu wono, ilat nogo, sekarwijaya kusuma.
6. TRI RELUNG BAYU: sekar kenongo,umpak paseban pandadaran,talingan bumi.
7. CATUR RELUNG TIRTO:selo panembahan,welud kuning, tirto salju sutro,glambir maheso maodo,lekuk sarodo, sayuto kartiko suci.
8. PONCO RELUNG JIWO: sekar kenikir gading, umpak paseban parenungan.
9. PASEBAN MAHARANI; batuan stalaktitdan stalakmit yang ada adalah bernama songgo langit, karang langit, mahkota maharani, selo candi pawon, selo candi purwo, selo kodok, selo mego mengdung, selo pelangi gumelar, guru yakso, semua ini ada dipelataran jobo. Selanjutnya yang berada dipelataran jero adalah benteng sengkolo, selo busono pandeto, selo godo rujak polo, selo galih keling, selo tapak tangan, songgo mego, selo tlale gajah, songgo mendung, karang tembok kuning.sekar mayang, karang bumi, karang langit coklat, karang langit gempal, karang langit riti, karang langit glabir.

D. Keajaiban Gua Alam 
        Jika gua akbar memiliki kelebihan luas dan berada di dalam kota maka gua istana maharani memiliki kelebihan keindahan stalaktit dan stalakmit yang unik dan mempesona serta berada ditepi jalan raya wisata pantai utara jawa dan berada dalam arena wisata tanjung kodok.
         Didalam gua terdapat sebuah keris bertuah bermotif ularyang dikuasai oleh jin yang berada dalam gua. Terlihat cahaya keris diatas blower angin, keris yang lain dan batu akik juga banyak bertebara dalam gua namun sulit diambil karena sebagai paku bumi kekuatan gua.
       Nama jin wanita penunggu gua maharani temuan sugeng ini adalah maharani dan cocok dengan nama cucu Ny. Sunyoto. Batuan stalakmit dan stalaktit dapat memberikan gambaran falsafah hidup dan merupakan simbul reproduksi modern sebagai realisasi. Pada zaman dahulu ada empat pemujaan untuk pemujaan kesuburan antara lain di candi sukuh berada dikaki gununglawu bung karno telah membuat lambang kesuburan yaitu Lingga dan Yoni. Lingga yaitu lambang kelamin pria (tegak ereksi) dan Yoni adalah lambang rahim (kelamin wanita).
        Lambang dalam gua maharani adalah kesuburan tempat menanam benih manusia yang terlambangkan sebagai:
1. Garba Jawi terdiri dari relung andika yaitu tempat masuknya penis pria dalam rahim wanita dan relung balemuko yaitu terjadinya orgasme dalam proses tempat pancara air seperma.
2. Garba Lebet terdiri dari paseban maharani dikelillingi 7 relung yaitu (Buwono, Agni, Bayu, Tirto, Jiwo, Rogo, Sukmo) adalah dalam rahim yang disebut tempat kandungan ibu bersemaian bibit manusia, bersekongkolnya sel jantan dan seltelur.

E. Alur Cerita Batuan Dalam Gua Alam
         Gua istana maharani terjadi pada zaman kapur dimana terjadi celah api didasar pegunungan yang kawahnya menyembur lidah api dan kini bekasnya menjadi gua-gua disekitar tanjung kodok dan ada sumber air panas diarahan selatan gua istana maharani. Menurut pengamatan sejarah tak ada seorangpun yang pernah masuk dalam gua ini sebab tidak ada pintu gua, baru pada tanggal 6 agustus 1992 orang pertama yang masuk adalah Sugeng (sang penemu). Untuk menghidupkan legenda batuan stalaktik dan stalakmit dalam gua maharani maka tersusunlah alur cerita sbegai berikut:
 Asal-usul manusia nenurut agama samawi adalah keturunan adam dan hawa yang datang dari surga, turun kebumi atas perintah tuhan untuk hidup meramaikan dunia sebagai homosapiens artinya manusia yang bijak berakal. Bangsa indonesia adalah bangsa bahari yang menguasai laut pada masa dulu kala yang mendiami ribuan pulau nusantara adalah cucu adam dan hawa.
 Dahuli kala ada seorang pengembara yang berlayar menguasai berbagai lautan nusantara. Pengembara ini adalah sepasang suami istri bernama RAJUL dan MAR’AH, berbudi pekerti baik penuh kasih sayang. Rajul dan Mar’ah telah mendarat diberbagai pantai nusantara dan hidup dalam pengembaraannya menyatu dengan kehidupan suku bangsa setempat.
            Pada kesempatan menyusuru patai utara jawa dengan perahu cadik sepasang suami istri ini perahunya terdampar ditanjung berbatu. Mar’ah merasa haus maka mengajak rajul suaminya untuk mencari air minum berjalan kearah timur menapak naik menanjak melewati batuan kapur yang kini menjadi dusun penanjan. Karena kelelahan mereka berjalan gontai sampi dipegunungan tanah tanjung yang penuh batuan, mencari cekungan batu disekitarnya ternyata dijumpai ada gua kecil yang didalamnya ada kali bawah tanah. Keduanya lalu meminum air gua tersebut dengan sepuasnya untuk menghilangkan dahaga.
          Rajul dan Mar’ah menamakan tanjung berbatu ini dengan nama tanjung kodoksebab ketika mereka meminum air dalam gua ternyata banyak kataknya (kodok) berada dalam gua yang jumlahnya ribuan ekor. Pada waktua akan keluar melalui pintu gua, pasangan suami-istri ini dikejutkan dengan suara mintak tolong “teot..teot..teot…”. ternyata Rajul dan Mar’ah mengetahui ada dua ekor katak raksasa terjepit batu karang yang tidak dapat melepaskan diri. dengan spontan dan penuh kasih sayang dua sejoli tersebut melakukan upaya menolong melepaskan kedua katak raksasa dari jepitanbatu hingga dapat bebas. Kedua raksasa itu ternyata raja dan ratu katak yang beribu-ribu tahun memimpin katak-katak dalam gua yng ada airnya tersebut. Raja dan ratu katak kembalimemmpin katak-katak kecil yang menjadi rakyatnya. Kali bawah tanah ini sekarang dapat dilihat berada disebelah barat pintu gerbang tanjung kodok, airnya dinaikan keatas untuk memenuhi air wudlu mushola diarena tanjung kodok.
         Kedua katak yang menguasai kerajaan kodok ditanjung berbatu dan dikenali dengan nama sri kodok puragung dan sri ayu kodok purnaningrum. Raja dan ratu katak sangat berterima kasih ats pertolongan rajul dan mar’ah yang telah melepaskan diriya darhimpitan batu karang, keduanya menjalin persahabatan dengan penolongnya. Sebab jasa baik ini maka katak mempesilahkan sahabatnya dikawasan tanjung daerah kekuasaanya. Pershabatan ini berlangsung lama sekali dan tolong menolong memenuhi kebutuhan hidup mereka. Rajul dan mar’ah tidak uasah naik perahu cadik lagi, keduanya menyebrangi lautan menuju pulau-pulau di nusantara untuk mencari persaudaraan dan bersilaturrahmi mencari kedamaian.
        Pada suatu hari terjadi ombak besar dan angin kencang dimana air laut naik karena es kutub mencair dahsatnya disebabkan panas matahari meningkat mencapai puncaknya. Hal ini diperkirakan bersamaan dengan zaman banjirnya nabi nuh dahulu. Melihat hal ini ternyata semua daratan dan pantainya rendah tenggelam tersapu ombak. Dengan kejadian ono maka raja dan ratu katak khawatir akan nasib kedua sahabatnya yaitu rajul dan mar’ah. Demi membalas jasa keduanya maka raja katak membuka rahasia dengan ikhlas memberikan “rumah gua” miliknya kepada sahabatnya tercinta. Rumah gua ini sangat indah laksana istana. Pada saat itu raju8l dan mar’ah tidak menyangka bahwa keduanya akan mendapatkan hadiah yang tak ternilai harganya. Rajul dan istrinya menerima hadiah ini dengan senang hati dan sangat berterima kasih kepada raja dan ratu katak. Mereka berdua bersyukur kepada tuhan yang maha esa. Mulai saat itu rajul dan mar’ah mendiami istana dalam tanah berbatu karang dengan segala persediaan kebutuhan hidup yang lebih dari cukup. Demi keamanan dari ombak besar yang cukup lama pada waktu itu, maka pintu istana bawah tanah ditepi pantai itu ditutup dari luar oleh raja katak sehingga tidak seorangpun tahu bahwa dikerajaan katak ditanjung kodok ada gua indah seperti istana. Hal ini dilakukan demi keselamatan dua sahabat tercinta. Kedua katak secara sadar dan ikhlas, beribu-ribu tahun siap menjaga diujung tanjung sebagai kesetiaan kepada sahabatnya. Raja dan ratu katak menghadang ombak menghadap kelaut untuk menjaga keselamatanistana dan kedua sahabatnya yang telah menyelamatkan dirinya. Kesetiaan raja dan ratu katak dibuktikan sampai akhir hayat, keduanya mati membeku dan mengeras menjadi batu di ujung tanjung sebagai batu kodok.
        Rajul dan mar’ah sebagai orang berbudi hidup rukun membina keluarga sejahtera. Konon menurut legenda rajul dan mar’ah meninggalkan seorang anak dan berkembang keturunannya disekitar tanjung kodok, mar’ah seorang yang cantik bertubuh molek dikenal sebagai ibu Maratusholikhah. Setiap ia mempunyai anak, maka bayi yang dilahirkanya tersebut selalu dimandikan disebuah sumber air yang bersih dan jernih berada dibagian selatan gua istana. Tempat pemandian ini dinamakan sendang agung, jika ada keluarga sakit maka dimandikan dengan air dari dari sumber air panas yang kini dikenal dengan pemandian sumber air panas Brumbun di dusun Tepanas.
         Anak tercinta pasangan Rajul dan marah dikenal dengan nama Nutfah. Nutfah adalah anak yang terakhir dari keluarga rajul. Sepeninggalan orang tuanya Nutfah dikenal dengan panggilan Nutfatulkhasanah mencari sesuatu amanat kedua orang tuanya. Dia mendapat wasiat dan diberi peninggalan sebuah kunci rumah. Setelah bertahun-tahun mencari wasiat orang tuanya sampailah disebuah tanjung yang diujungnya terdapat dua batu berbentuk kodok. Malam telah tiba maka nutfah mencari tempat yang aman yaitu sebuah cekungan berupa relung batu kapur, angin makin terasa menyelinap kedalam cekungan batu kapur, nutfah makin masuk kedalam dengan gontaiia masuk kedalam sebuah lorong menurun (kini diberi nama relung andika) lalu masuk lagi kedalam yang ada sebuah latar dan ruang agak sempit yang hawanya hangat (relung balemuko).
         Kemudian nutfah menemukan sebuah pintu besi untuk masuk dalam gua yang kanan-kirinya dijaga seekor naga dan diatasnya bertenger burung garuda mengepakkan sayapnya dan pintu itu bernama gerbang paksi tatsoko. Kunci peninggalan orang tuanya diambil dan dimasukkan kelubang kunci pintu besi, setelah dibuka ternyata ini adalah pintu istana maharani peninggalan orang tuanya atas pemberian raja dan ratu katak di tanjung kodok dan akhirnya sampai sekarang gua itu dibuka  

Rabu, 04 Juni 2008

Hikayat Bunga Kemuning


Dahulu kala, ada seorang raja yang memiliki sepuluh orang puteri yang cantik-cantik. Sang raja dikenal sebagai raja yang bijaksana. Tetapi ia terlalu sibuk dengan kepemimpinannya, karena itu ia tidak mampu untuk mendidik anak-anaknya. Istri sang raja sudah meninggal dunia ketika melahirkan anaknya yang bungsu, sehingga anak sang raja diasuh oleh inang pengasuh. Puteri-puteri Raja menjadi manja dan nakal. Mereka hanya suka bermain di danau. Mereka tak mau belajar dan juga tak mau membantu ayah mereka. Pertengkaran sering terjadi diantara mereka.

Kesepuluh puteri itu dinamai dengan nama-nama warna. Puteri Sulung bernama Puteri Jambon. Adik-adiknya dinamai Puteri Jingga, Puteri Nila, Puteri Hijau, Puteri Kelabu, Puteri Oranye, Puteri Merah Merona dan Puteri Kuning, Baju yang mereka pun berwarna sama dengan nama mereka. Dengan begitu, sang raja yang sudah tua dapat mengenali mereka dari jauh. Meskipun kecantikan mereka hampir sama, si bungsu Puteri Kuning sedikit berbeda, Ia tak terlihat manja dan nakal. Sebaliknya ia selalu riang dan dan tersenyum ramah kepada siapapun. Ia lebih suka bebergian dengan inang pengasuh daripada dengan kakak-kakaknya.

Pada suatu hari, raja hendak pergi jauh. Ia mengumpulkan semua puteri-puterinya. "Aku hendak pergi jauh dan lama. Oleh-oleh apakah yang kalian inginkan?" tanya raja. "Aku ingin perhiasan yang mahal," kata Puteri Jambon. "Aku mau kain sutra yang berkilau-kilau," kata Puteri Jingga. 9 anak raja meminta hadiah yang mahal-mahal pada ayahanda mereka. Tetapi lain halnya dengan Puteri Kuning. Ia berpikir sejenak, lalu memegang lengan ayahnya. "Ayah, aku hanya ingin ayah kembali dengan selamat," katanya. Kakak-kakaknya tertawa dan mencemoohkannya. "Anakku, sungguh baik perkataanmu. Tentu saja aku akan kembali dengan selamat dan kubawakan hadiah indah buatmu," kata sang raja. Tak lama kemudian, raja pun pergi.

Selama sang raja pergi, para puteri semakin nakal dan malas. Mereka sering membentak inang pengasuh dan menyuruh pelayan agar menuruti mereka. Karena sibuk menuruti permintaan para puteri yang rewel itu, pelayan tak sempat membersihkan taman istana. Puteri Kuning sangat sedih melihatnya karena taman adalah tempat kesayangan ayahnya. Tanpa ragu, Puteri Kuning mengambil sapu dan mulai membersihkan taman itu. Daun-daun kering dirontokkannya, rumput liar dicabutnya, dan dahan-dahan pohon dipangkasnya hingga rapi. Semula inang pengasuh melarangnya, namun Puteri Kuning tetap berkeras mengerjakannya.

Kakak-kakak Puteri Kuning yang melihat adiknya menyapu, tertawa keras-keras. "Lihat tampaknya kita punya pelayan baru,"kata seorang diantaranya. "Hai pelayan! Masih ada kotoran nih!" ujar seorang yang lain sambil melemparkan sampah. Taman istana yang sudah rapi, kembali acak-acakan. Puteri Kuning diam saja dan menyapu sampah-sampah itu. Kejadian tersebut terjadi berulang-ulang sampai Puteri Kuning kelelahan. Dalam hati ia bisa merasakan penderitaan para pelayan yang dipaksa mematuhi berbagai perintah kakak-kakaknya.

"Kalian ini sungguh keterlaluan. Mestinya ayah tak perlu membawakan apa-apa untuk kalian. Bisanya hanya mengganggu saja!" Kata Puteri Kuning dengan marah. "Sudah ah, aku bosan. Kita mandi di danau saja!" ajak Puteri Nila. Mereka meninggalkan Puteri Kuning seorang diri. Begitulah yang terjadi setiap hari, sampai ayah mereka pulang. Ketika sang raja tiba di istana, kesembilan puteri nya masih bermain di danau, sementara Puteri Kuning sedang merangkai bunga di teras istana. Mengetahui hal itu, raja menjadi sangat sedih. "Anakku yang rajin dan baik budi! Ayahmu tak mampu memberi apa-apa selain kalung batu hijau ini, bukannya warna kuning kesayanganmu!" kata sang raja.

Raja memang sudah mencari-cari kalung batu kuning di berbagai negeri, namun benda itu tak pernah ditemukannya. "Sudahlah Ayah, tak mengapa. Batu hijau pun cantik! Lihat, serasi benar dengan bajuku yang berwarna kuning," kata Puteri Kuning dengan lemah lembut. "Yang penting, ayah sudah kembali. Akan kubuatkan teh hangat untuk ayah," ucapnya lagi. Ketika Puteri Kuning sedang membuat the, kakak-kakaknya berdatangan. Mereka ribut mencari hadiah dan saling memamerkannya. Tak ada yang ingat pada Puteri Kuning, apalagi menanyakan hadiahnya. Keesokan hari, Puteri Hijau melihat Puteri Kuning memakai kalung barunya. "Wahai adikku, bagus benar kalungmu! Seharusnya kalung itu menjadi milikku, karena aku adalah Puteri Hijau!" katanya dengan perasaan iri.

Ayah memberikannya padaku, bukan kepadamu," sahut Puteri Kuning. Mendengarnya, Puteri Hijau menjadi marah. Ia segera mencari saudara-saudaranya dan menghasut mereka. "Kalung itu milikku, namun ia mengambilnya dari saku ayah. Kita harus mengajarnya berbuat baik!" kata Puteri Hijau. Mereka lalu sepakat untuk merampas kalung itu. Tak lama kemudian, Puteri Kuning muncul. Kakak-kakaknya menangkapnya dan memukul kepalanya. Tak disangka, pukulan tersebut menyebabkan Puteri Kuning meninggal. "Astaga! Kita harus menguburnya!" seru Puteri Jingga. Mereka beramai-ramai mengusung Puteri Kuning, lalu menguburnya di taman istana. Puteri Hijau ikut mengubur kalung batu hijau, karena ia tak menginginkannya lagi.

Sewaktu raja mencari Puteri Kuning, tak ada yang tahu kemana puteri itu pergi. Kakak-kakaknya pun diam seribu bahasa. Raja sangat marah. "Hai para pengawal! Cari dan temukanlah Puteri Kuning!" teriaknya. Tentu saja tak ada yang bisa menemukannya. Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, tak ada yang berhasil mencarinya. Raja sangat sedih. "Aku ini ayah yang buruk," katanya." Biarlah anak-anakku kukirim ke tempat jauh untuk belajar dan mengasah budi pekerti!" Maka ia pun mengirimkan puteri-puterinya untuk bersekolah di negeri yang jauh. Raja sendiri sering termenung-menung di taman istana, sedih memikirkan Puteri Kuning yang hilang tak berbekas.

Suatu hari, tumbuhlah sebuah tanaman di atas kubur Puteri Kuning. Sang raja heran melihatnya. "Tanaman apakah ini? Batangnya bagaikan jubah puteri, daunnya bulat berkilau bagai kalung batu hijau, bunganya putih kekuningan dan sangat wangi! Tanaman ini mengingatkanku pada Puteri Kuning. Baiklah, kuberi nama ia Kemuning.!" kata raja dengan senang. Sejak itulah bunga kemuning mendapatkan namanya. Bahkan, bunga-bunga kemuning bisa digunakan untuk mengharumkan rambut. Batangnya dipakai untuk membuat kotak-kotak yang indah, sedangkan kulit kayunya dibuat orang menjadi bedak. Setelah mati pun, Puteri Kuning masih memberikan kebaikan.

Moral : Kebaikan akan membuahkan hal-hal yang baik, walaupun kejahatan sering kali menghalanginya.

Si Gembala Pembohong


 

Di suatu desa ada seorang anak gembala. Setiap hari dia menggembalakan kambingnya di padang rumput agak jauh dari desa. Si Gembala itu anak yang nakal. Dia suka berbuat usil dengan teman-temannya. Pada suatu hari yang panas, dia sedang menggembala kambing-kambingnya di sebuah padang rumput, tak jauh dari desanya. Di kelompok lain, kambing-kambing orang-orang desa digembalakan juga, meski tidak ada yang menjaganya. Tiba-tiba, dia punya ide jahat untuk membohongi warga desa. Kemudian dia berteriak keras, "Ada serigala! Ada serigala! Tolong... tolong...tolong!" "Serigala mau makan kambing-kambing kita." Dia berharap warga desa mendengar teriakannya dan segera berlari ke arah padang rumput.

Warga desa yang mendengar teriakan anak itu segera berlari ke padang rumput untuk menyelamatkan kambing-kambing mereka. Namun ketika mereka sampai, ternyata tidak ada serigala. Hanya anak gembala itu yang tertawa terpingkal-pingkal melihat warga desa yang telah dibohonginya.

Keesokan harinya, anak gembala tersebut mengulangi tipuannya. Dia berteriak lebih keras dari sebelumnya, “ada serigala…. Ada serigala… kambing-kambing kita mau dimakan… Warga desa kembali bergegas hendak menyelamatkan kambing-kambing mereka. Anak gembala itu kembali tertawa terpingkal-pingkal.

Sampai pada suatu hari, segerombolan serigala benar-benar datang menghampiri kambing-kambing anak gembala itu. Si anak gembala begitu ketakutan dan segera berteriak keras sekali, "Tolooong... toloooong, ada serigala mau makan kambing kambing ku, tolong!" Para warga desa mendengar teriakan anak gembala itu. Namun mereka diam saja, dikira pasti itu tipuan anak gembala itu lagi. Maka mereka diam saja di desa meneruskan pekerjaan mereka. Malang si anak gembala, semua kambingnya habis dimakan serigala.

Begitulah nasib yang menimpa anak yang sering berbohong: bahkan berkata benar pun tidak ada orang yang akan percaya.

Pesan Moral : Jangan suka berbohong pada orang lain, karena jika sering berbohong maka orang lain akan menjadi tidak percaya dengan perkataan kita.


Rabu, 28 Mei 2008

"Landi Landak yang Kesepian"

Di hutan yang rindang, hidup seekor anak landak yang merasa kesepian. Landi namanya. Landi tidak mempunyai teman karena teman-temannya takut tertusuk duri tajam yang ada di badannya. "Maaf Landi, kami ingin bermain denganmu, tapi durimu sangat tajam," kata Cici dan teman-temannya. Tinggallah Landi sendirian. Ia hanya bisa bersedih. "Mengapa mereka tidak mau berteman dan bermain denganku?, padahal tidak ada seekor binatang pun yang pernah tertusuk duriku," gumam Landi.

Hari-hari berikutnya Landi hanya melamun di tepi sungai. "Ah, andai saja semua duriku ini hilang, aku bisa bebas bermain dengan teman-temanku", kata Landi dalam hati. Landi merasa tidaklah adil hidupnya ini, selalu dijauhi teman-temannya. Ketika sedang asyik dengan lamunannya, muncullah Kuku Kura-kura. "Apa yang sedang kau lamunkan, Landi?" sapa kuku mengejutkan. "Ah, tidak ada," jawab Landi malu. "Jika kau mempunyai masalah, aku siap mendengarkannya," kata Kuku.

Kuku kura-kura kemudian duduk di sebelah Landi. Lalu Landi mulai bercerita tentang masalahnya. "Kau tak perlu khawatir. Aku bersedia menjadi sahabatmu. Percayalah!" kata kuku sambil menjabat tangan Landi. Betapa girangnya hati Landi. Kini ia mempunyai teman. "Tempurungmu tampak begitu berat. Apa kau tidak merasa tersiksa?" tanya Landi. "Oh, sama sekali tidak. Justru tempurung ini sangat berguna. Tempurung ini bisa melindungiku. Jika ada bahaya, aku hanya perlu menarik kaki dan kepalaku ke dalam. Hebat kan ? Selain itu aku tak perlu repot mencari tempat tinggal. "Rumahku ini bisa berpindah-pindah sesuai keinginanku", kata Kuku kura-kura sambil mempraktekkan apa yang dikatakannya. Landi landak merasa terhibur.

Suatu hari, teman Landi yang bernama Sam Kodok berulang tahun. Semua diundang, termasuk Landi Landak."Ayo Landi, kau harus datang ke pesta itu," bujuk Kuku kura-kura. "Aku tidak mau karena nanti teman-teman yang lain pasti akan menjauhiku karena takut tertusuk duri," kata Landi dengan sedih. "Jangan khawatir, kau kan tidak sendirian. Aku akan menemanimu. Di sana banyak kue yang lezat dam tentu saja buah apel loh!" Mendengar kata apel, Landi menjadi tergoda. Ia memang sangat menyukai apel. Akhirnya Landi mau juga berangkat bersama Kuku kura-kura.

Pesta Sam kodok sangat meriah. Wangi aneka bunga tercium disetiap sudut ruangan. Ada dua meja panjang diletakkan di sisi kiri dan kanan halaman Sam kodok. Di atasnya tersedia berbagai macam kue dan buah-buahan. "Lihat! Di dekat meja ada satu tong sirup apel !, kata Landi". Landi dan Kuku kura-kura memberikan selamat pada Sam kodok. Setelah meniup lilin. Semua bertepuk tangan sambil bernyanyi "Selamat Ulang Tahun". Pada saat berdansa, semua yang diundang menghindar dari Landi landak. Mereka takut tertusuk duri Landi landak. Akhirnya, Kuku kura-kura lah yang menemani Landi berdansa.

Tiba-tiba, pesta yang mengasyikkan itu terhenti dengan teriakan Tito. Ia datang sambil berlari ketakutan. "Awas! Serigala jahat datang! Tolong...! Tolong...! Teriaknya dengan napas tersengal-sengal. Semua menjadi ketakutan. Mereka berlarian menyelamatkan diri. Karena tidak bisa berlari, Kuku kura-kura langsung memasukkan kepala dan kakinya ke tempurung rumahnya. Sedangkan Landi Landak segera menggulung tubuhnya menjadi seperti bola. Serigala jahat yang mengejar teman-teman Landi tidak melihat tubuh Landi. Tiba-tiba, "Brukk, aduhhh..." teriak serigala jahat. Ia tertusuk duri tajam Landi Landak. Sambil menahan sakit, Serigala jahat langsung lari tunggang langgang. Maka selamatlah Landi dan teman-temannya.

"Hore..! Hore...! Hidup Landi Landak!" semua binatang mengelukan Landi. Landi menjadi tersipu malu karenanya. "Maafkan aku Landi, selama ini aku menjauhimu. Padahal kau tidak pernah menyakitiku. Ternyata duri tajammu itu telah menyelamatkan kita semua," sesal Cici Kelinci. Akhirnya semua yang datang ke pesta Sam Kodok meminta maaf pada Landi Landak karena telah menjauhinya kemudian mereka pun berterima kasih pada Landi Landak karena telah melindungi mereka dari serigala jahat. Kini, Landi Landak tidak merasa kesepian lagi. Teman-temannya tidak takut lagi akan durinya yang tajam. Bahkan mereka merasa aman jika Landi berada didekat mereka.

Paman Alfed dan 3 Ekor Rakun

Di sebuah peternakan yang luas, tinggal seorang peternak yang bernama Alfred. Ia lebih sering di panggil Paman Alfred oleh tetangga di sekitarnya.

Setiap hari pekerjaannya memerah susu sapi dan memberi sapi-sapinya makan, membabat rumput-rumputan untuk makanan sapi, kemudian memberi makan ternak-ternaknya yang lain. Selain itu juga membersihkan ladang jagung dan gandumnya. Setelah semuanya selesai, Paman Alfred berkeliling ladang dan peternakannya, melihat apakah ada pagar-pagar yang rusak atau tidak.

Sore menjelang malam hari, Paman Alfred merasa punggungnya sakit dan pegal semua. Setelah makan malam, ia segera tidur karena badannya sudah sangat lelah. Ia menghempaskan badannya di tempat tidurnya yang besar dan empuk. "Saya sangat lelah," keluhnya. Tidak lama kemudian, Paman Alfred tertidur. Di tengah tidurnya, ia tiba-tiba terbangun mendengar ada suara sesuatu dari atap loteng rumahnya. Paman Alfred merasa terganggu tidurnya. Ia segera mengenakan sendal dan mengambil senter.

Paman Alfred berjalan menaiki tangga menuju atap lotengnya. Setelah membuka pintu lotengnya, paman Alfred sangat terkejut sampai hampir terjatuh ke belakang. Ia melihat 3 ekor rakun yang sedang bernyanyi. Karena kesalnya, ia berteriak, "Diam..!", 3 rakun tersebut tetap bernyanyi, walaupun sudah diusir. Akhirnya, paman Alfred kembali ke kamarnya. Ia mencoba untuk melanjutkan tidurnya.

Esok harinya, ia mengalami hal yang sama dengan kemarin. Paman Alfred akhirnya membeli racun pengusir rakun. Ketika malam hari, Paman Alfred kembali mendengar rakun-rakun tersebut bernyanyi. Rakun-rakun tersebut tidak mau menyentuh makanan yang diberikan Paman Alfred. Mereka tahu kalau makanan tersebut sudah diberi racun. Paman Alfred naik ke loteng. Ia berteriak-teriak menyuruh rakun-rakun itu berhenti menyanyi. Ia juga melempar rakun-rakun itu dengan sendalnya. Rakun-rakun itu mengelak sambil terus bernyanyi mengejek Paman Alfred.

Keesokan harinya. Paman Alfred pergi ke perpustakaan. Ia mencari buku cara mengusir rakun. Setelah hampir satu jam, buku yang dicarinya berhasil ditemukan. Di buku tersebut tertulis cara mengusir rakun adalah dengan membunyikan suara yang bising, misalnya dengan radio dan lainnya. Setelah sampai di rumah, Paman Alfred menyiapkan radio tuanya. Ia memasukkan kaset lagu rock ke dalam radiotapenya.

Malam harinya, ia memasang radio tersebut di loteng. Ia mencoba untuk tidur tetapi rasa penasaran membuat Paman Alfred ingin melihat keadaan di loteng. Ia kembali terkejut melihat rakun-rakun tersebut masih ada di loteng. Mereka bahkan tidak hanya menyanyi. Mereka juga menari-nari mengikuti musik. Habis sudah kesabaran Paman George. Mukanya menjadi merah karena kesal, setelah mematikan radio ia berteriak sekeras-kerasnya. "Diaammmm…!", teriak Paman Alfred. Setelah agak reda kekesalannya, Paman Alfred berkata,"Aku punya tawaran untuk kalian, bagaimana kalau kita tukar tempat ?, kalian boleh menempati kamarku sebagai tempat kalian", ujar Paman Alfred kepada rakun-rakun itu. Rakun-rakun itu setuju. Esok malam mereka menempati kamar Paman Alfred, sedang Paman Alfred tidur di loteng. Setelah menyanyi dan menari akhirnya rakun-rakun itu tertidur di kamar Paman Alfred.

Paman Alfred yang sudah sangat lelah tidak memikirkan lagi tempat tidurnya. Ia tertidur lelap di loteng. Saking lelapnya, Paman Alfred bermimpi tentang rakun, ia bernyanyi dalam mimpinya, persis seperti nyanyian yang di nyanyikan oleh 3 rakun. Tiga rakun yang tidur di kamar Paman Alfred terbangun, mereka merasa terganggu dan takut mendengar suara yang berasal dari loteng. Mereka segera berlarian keluar rumah dan akhirnya mereka tidak pernah datang lagi ke rumah Paman Alfred. Akhirnya sejak saat itu, Paman Alfred bisa tidur dengan nyenyak setelah bekerja seharian.







Senin, 26 Mei 2008

Balas Budi Burung Bangau

Dahulu kala di suatu tempat di Jepang, hidup seorang pemuda bernama Yosaku. Kerjanya mengambil kayu bakar di gunung dan menjualnya ke kota. Uang hasil penjualan dibelikannya makanan. Terus seperti itu setiap harinya. Hingga pada suatu hari ketika ia berjalan pulang dari kota ia melihat sesuatu yang menggelepar di atas salju. Setelah di dekatinya ternyata seekor burung bangau yang terjerat diperangkap sedang meronta-ronta. Yosaku segera melepaskan perangkat itu. Bangau itu sangat gembira, ia berputar-putar di atas kepala Yosaku beberapa kali sebelum terbang ke angkasa. Karena cuaca yang sangat dingin, sesampainya dirumah, Yosaku segera menyalakan tungku api dan menyiapkan makan malam. Saat itu terdengar suara ketukan pintu di luar rumah.

Ketika pintu dibuka, tampak seorang gadis yang cantik sedang berdiri di depan pintu. Kepalanya dipenuhi dengan salju. "Masuklah, nona pasti kedinginan, silahkan hangatkan badanmu dekat tungku," ujar Yosaku. "Nona mau pergi kemana sebenarnya ?", Tanya Yosaku. "Aku bermaksud mengunjungi temanku, tetapi karena salju turun dengan lebat, aku jadi tersesat." "Bolehkah aku menginap disini malam ini ?". "Boleh saja Nona, tapi aku ini orang miskin, tak punya kasur dan makanan." ,kata Yosaku. "Tidak apa-apa, aku hanya ingin diperbolehkan menginap". Kemudian gadis itu merapikan kamarnya dan memasak makanan yang enak.

Ketika terbangun keesokan harinya, gadis itu sudah menyiapkan nasi. Yosaku berpikir bahwa gadis itu akan segera pergi, ia merasa kesepian. Salju masih turun dengan lebatnya. "Tinggallah disini sampai salju reda." Setelah lima hari berlalu salju mereda. Gadis itu berkata kepada Yosaku, "Jadikan aku sebagai istrimu, dan biarkan aku tinggal terus di rumah ini." Yosaku merasa bahagia menerima permintaan itu. "Mulai hari ini panggillah aku Otsuru", ujar si gadis. Setelah menjadi Istri Yosaku, Otsuru mengerjakan pekerjaan rumah dengan sungguh-sungguh. Suatu hari, Otsuru meminta suaminya, Yosaku, membelikannya benang karena ia ingin menenun.

Otsuru mulai menenun. Ia berpesan kepada suaminya agar jangan sekali-kali mengintip ke dalam penyekat tempat Otsuru menenun. Setelah tiga hari berturut-turut menenun tanpa makan dan minum, Otsuru keluar. Kain tenunannya sudah selesai. "Ini tenunan ayanishiki. Kalau dibawa ke kota pasti akan terjual dengan harga mahal. Yosaku sangat senang karena kain tenunannya dibeli orang dengan harga yang cukup mahal. Sebelum pulang ia membeli bermacam-macam barang untuk dibawa pulang. "Berkat kamu, aku mendapatkan uang sebanyak ini, terima kasih istriku. Tetapi sebenarnya para saudagar di kota menginginkan kain seperti itu lebih banyak lagi. "Baiklah akan aku buatkan", ujar Otsuru. Kain itu selesai pada hari keempat setelah Otsuru menenun. Tetapi tampak Otsuru tidak sehat, dan tubuhnya menjadi kurus. Otsuru meminta suaminya untuk tidak memintanya menenun lagi.

Di kota, Sang Saudagar minta dibuatkan kain satu lagi untuk Kimono tuan Putri. Jika tidak ada maka Yosaku akan dipenggal lehernya. Hal itu diceritakan Yosaku pada istrinya. "Baiklah akan ku buatkan lagi, tetapi hanya satu helai ya", kata Otsuru.


karena cemas dengan kondisi istrinya yang makin lemah dan kurus setiap habis menenun, Yosaku berkeinginan melihat ke dalam ruangan tenun. Tetapi ia sangat terkejut ketika yang dilihatnya di dalam ruang menenun, ternyata seekor bangau sedang mencabuti bulunya untuk ditenun menjadi kain. Sehingga badan bangau itu hampir gundul kehabisan bulu. Bangau itu akhirnya sadar dirinya sedang diperhatikan oleh Yosaku, bangau itu pun berubah wujud kembali menjadi Otsuru. "Akhirnya kau melihatnya juga", ujar Otsuru.

"Sebenarnya aku adalah seekor bangau yang dahulu pernah Kau tolong", untuk membalas budi aku berubah wujud menjadi manusia dan melakukan hal ini," ujar Otsuru. "Berarti sudah saatnya aku berpisah denganmu", lanjut Otsuru. "Maafkan aku, ku mohon jangan pergi," kata Yosaku. Otsuru akhirnya berubah kembali menjadi seekor bangau. Kemudian ia segera mengepakkan sayapnya terabng keluar dari rumah ke angkasa. Tinggallah Yosaku sendiri yang menyesali perbuatannya.

Petualangan Tom Sawyer

Tom Sawyer adalah seorang anak laki-laki yang sangat menyukai petualangan. Pada suatu malam ia melarikan diri dari rumah, lalu bersama temannya yang bernama Huck pergi ke pemakaman. "Hei, Huck! Kalau kita membawa kucing yang mati dan menguburnya, katanya kutil kita bisa diambil. " "Benar. Serahkan saja padaku! Masa'sih begitu saja takut. "

Hei , tunggu! Ada orang yang datang! Tom dan Huck segera bersembunyi. "Bukankah itu dokter dan Kakek Peter? Dan itu si Indian Joe..." Kemudian Dokter dan Kakek Petter mulai bertengkar karena masalah uang. Untuk mendapatkan mayat, Dokter harus melakukan penggaliannya berdua. Lalu Kakek Petter mulai menaikkan harga, tetapi Dokter menolak. Kemudian Kakek Petter dipukul oleh Dokter hingga terjatuh. Setelah itu, si Indian Joe memungut pisau yang dibawa Kakek Petter dan melompat menyerang Dokter. Brukk!


Di Indian Joe membunuh Dokter, lalu pergi membawa lari uang itu. Keesokan harinya Dokter ditemukan meninggal dunia di pemakaman itu, dan orang-orang kota mulai berkumpul. "Ini adalah pisau Kakek Petter. Jadi, Kakek yang membunuh Dokter." "A... aku tidak bisa mengingatnya dengan jelas... "Apa!? Aku telah melihat Kakek Petter membunuh Dokter." " Memang benar, pembunuhnya adalah Kakek Petter.

Kemudian Kakek Petter ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara. "Wah... padahal pembunuh yang sebenarnya adalah si Indian Joe." "Tetapi, kalau kita mengatakan hal itu, si Indian Joe akan balas dendam dan membunuh kita... " Beberapa hari telah berlalu, dan semua orang tela.h melupakan kejadian itu. Pada suatu hari Tom bertengkar dengan Becky, gadis yang disukainya di sekolah. "Apa-apaan. Aku benci sama Tom."

Tom yang dimarahi oleh Becky merasa patah hati. Lalu temannya yang bernama Joe berkata, "Baik di rumah maupun di sekolah aku sudah tak diperlukan. Tom, kita melarikan diri saja, yuk! " Tom dan Joe mengajak Huck, mereka bermaksud hidup di sebuah pulau di tengah-tengah sungai. "Yahooo! Kalau begini, kita seperti bajak laut, ya! "Kita tak perlu pergi ke sekolah." Ketiganya menyeberangi sungai dengan rakit yang dibuatnya, dan mereka seharian bermain. Ketika mulai lapar, mereka pun makan telur goreng dan apel.

Keesokan harinya ketika mereka sedang bermain, tibatiba.... duaaar! Air sungai menyembur ke atas. "Oh, itu adalah isyarat dari seseorang yang sedang mencari orang yang tenggelam. " Orang-orang kota mengira Tom dan Joe tenggelam di sungai, lalu mereka pun datang untuk mencari. " Mungkin saat ini Bibi Polly sedang mengkhawatirkanku. Di tengah malam Tom berenang menyeberangi sungai, kembali ke rumahnya untuk melihat keadaan. Ketika Tom mengintip dari jendela, dilihatnya Bibi Polly dan Ibu Joe sedang menangis. "Semuanya meninggal dunia, ya..."

Kemudian Tom kembali ke pulau dan menceritakan hal itu pada Huck dan Joe. Mereka sangat terkejut. Akhirnya, mereka sepakat untuk pulang pada hari upacara pemakaman mereka. "Wah, Tom! Kamu pulang, ya.' "Joe, syukurlah kamu pulang dengan selamat." Semuanya gembira atas kepulangan mereka. Beberapa hari kemudian pengadilan Kakek Petter dimulai. Di pengadilan Kakek Petter ditetapkan sebagai pembunuh, dan ia akan dihukum mati. Untuk membebaskan Kakek Petter, Tom memberanikan diri menjadi saksi. "Pembunuh yang sebenarnya adalah si Indian Joe itu. "Kami telah melihat kejadian yang sesungguhnya." Si Indian Joe yang mendengar hal ini segera melompat dari jendela. Praaang! Ia melarikan diri. Kakek Petter merasa sangat gembira karena jiwanya tertolong. "Tom, terima kasih banyak. Begitu pengadilan berakhir, kota kembali pada kehidupannya semula. Pada suatu hari Huck dan Tom pergi ke sebuah rumah yang tak berpenghuni. Ketika keduanya sedang mencari sesuatu di tingkat dua, tiba-tiba seseorang masuk ke dalam rumah. "Ooh! Si Indian Joe bersama sahabatnya, si pencuri! "

Untuk menyembunyikan uang yang telah dicurinya, para pencuri itu mulai menggali lantai. Dan... criing! Mereka mengeluarkan kotak emas. "Hyaaa! Harta karun yang banyak! "Baiklah, kita pindahkan persembunyiannya lalu kita beri tanda dengan kayu ini. " Si Indian Joe juga mulai naik ke tingkat dua, untuk memeriksa. "Bagaimana, nih? Kalau ketahuan, pasti kita dibunuh olehnya..." Praaak! Gedebug! Karena papan tangganya sudah lapuk, di tengah-tengah tangga si Indian Joe terjatuh. Tom dan Huck pun merasa lega.

Beberapa hari telah berlalu. Pada suatu hari Huck mengikuti Indian Joe dan temannya sendirian. "Apakah mereka mau menyembunyikan emasnya?" Tetapi, Indian Joe dan temannya bermaksud menyerang rumah Nyonya Douglas. "Gawat! Aku harus cepat-cepat memberitahukannya pada seseorang! " Karena pemberitahuan Huck, orang yang rumahnya bertetangga dengan Nyonya Douglas segera membawa senapan dan menembak para pencuri itu. Door! Door! Indian Joe dan temannya sangat terkejut, lalu mereka melarikan diri. " Sudah tidak apa-apa, kok!! "Ini semua berkat Huck. Terima kasih atas pemberitahuannya, ya! "

Di lain pihak Tom, Becky, dan teman-temannya pergi berpiknik bersama-sama. Tetapi, Tom dan Becky tersesat di sebuah goa. Mereka tak tahu jalan pulang. Tiba-tiba, muncul asap membumbung mengelilingi keduanya. "Kyaaa! Tom, aku takut!" "Oh, ada seseorang! " Tiba-tiba muncullah sosok Indian Joe di depan Tom dan Becky. Saking terkejutnya, sampai-sampai keduanya sulit untuk bemafas. "Waaaw! Ayo, lari! Dengan cepat, Tom dan Becky berlari hingga keluar dari dalam goa. Akhimya mereka pulang.

Bibi Polly yang khawatir sangat gembira dengan kepulangan kedua anak itu. Ketika Tom pergi bermain ke rumah Becky, ayah Becky berkata, Tom karena goa itu berbahaya, sebaiknya ditutup saja. "Ya... tetapi di situ ada Indian Joe. Ketika semuanya pergi ke sana, temyata Indian Joe jatuh pingsan di pintu masuk goa. la tersesat. Kemudian mereka menutup pintu masuk goa, dan menjebloskan Indian Joe ke dalam penjara. "Temyata Indian Joe menyembunyikan emasnya di atas batu yang terletak di dalam goa ini dan telah diberi tanda. " Tom dan Huck masuk ke dalam goa dengan melewati jalan rahasia. Ketika mereka menggali batu yang sudah diberi tanda, mereka melihat emas yang disembunyikan kedua orang pencuri itu.

Horee dengan harta ini, kita akan menjadi kaya!" Saat Tom dan Huck pulang, Nyonya Douglas yang telah ditolong oleh Huck mengadakan pesta untuk menyambut mereka.

"Petualangan Tom Sawyer" adalah cerita yang diangkat dari kisah di Mississipi, Amerika. Menceritakan tentang pemuda nakal, bernama Tom dan sahabatnya, Huck. Inti ceritanya ada di tengah-tengah cerita, sehingga menjadi dan mudah dimengerti.

To: My Friend

Time Link